Dalam bulan Maret 2009, semua parpol terutama caleg berlomba untuk memberikan janji manis agar dapat dipilih dalam pemilu 2009 ini.
Tapi dibalik semua itu, tanpa tim sukses seorang caleg atau parpol, kampanye tak begitu berjalan dengan baiknya. Tapi perlu diingat juga suksesnya suatu kampanye dengan dihadiri ribuan simpatisan belum memendukung pula perolehan suara nanti di TPS. Sepertinya jadi buah semalakama.
Saat kampanye, bisa jadi panitia kampanye mengklaim bahwa massa mereka sudah nyata. Tapi hasil finalnya itu semua di perolehan suara. Saya berharap semua sukses, tapi hanya beberapa kursi sajalah yang diperebutkan oleh ribuan caleg.
Artinya, harus ada yang gagal dan menang. Yang menang bersorak dan yang gagal jangan termenung, masih ada harapan di hari esok. Pasti ada hikmaknya.
Bicara suksesnya seorang caleg, itu semua tak hanya diperoleh dengan fropil calegnya, tapi juga dari bagaimana timnya bekerja. Baik itu tim sukses parpol maupun tim sukses caleg.
Dan tak sedikit pula dana yangdisediakan caleg dan parpol untuk menggerakkan roda tim suksesnya.
Akhinya bagi caleg yang gagal duduk dikursi dewan, hanya bisa meratapi nasibnya. Sedangkan tim suksesnya yang sudah berbuat maksimal, yang sukses. Sebab berapa banyak dana yang bisa ia keluarkan untuk mempromosikan sang caleg. Tentu tim sukses itu wajib mengambil jatahnya.
Tak mungkin tim sukses mau bekerja kalau perutnya tak terisi. Istilahnya, tim sukses mau berjalan jika ada bensinya.
Akhirnya di setiap pemilu baik itu pilkada, pemilihan legislatif dan pilpres, itu yang paling sukses adalah tim sukses.
Sebab, jika caleg yang didukungnya duduk, tim sukses mengkalin mereka telah bekerja dengan maksimal.
Tapi bagi caleg yanng gagal, tim suksesnya akan mencari alasan yang diterima akal.
Akhir kata saya himbau agar warga memilih caleg yang potensial dan berani di tengah warga. Kalau ada yang main uang, saya tak menghalangi tapi pililah caleg yang sesuai dengan keyakinan kita.